mya



Free Widgets

Minggu, 04 Januari 2009

HARUSKAH BERCERAI

Merasa Tidak Tepat, Haruskah Bercerai?
Kamis, 18 Desember 2008 | 12:15 WIB

Awalnya perkawinan penuh madu dan segalanya terasa manis. Suami dan istri merasa, “Ini adalah pasangan terbaik bagiku,” sehingga bersedia memutuskan, dengannya akan menghabiskan sisa waktu bersama. Namun, ketika perkawinan mulai menghadapi kesulitan, masing-masing lantas menyimpulkan, “Sepertinya aku sudah membuat kesalahan dengan memilihnya,” atau “Seharusnya aku tidak bersamanya.”

Sebagai hasilnya, suami/istri seperti ingin melompat keluar dari pernikahan mereka. Padahal, seperti ditegaskan psikolog Widayawati Bayu, Psi, “Baik suami maupun istri tidak seharusnya mempunyai pemikiran ‘bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini,’ ketika hubungannya mengalami kesulitan.”

Konselor perkawinan pada Psychological Practice yang akrab dipanggil Widya ini selanjutnya mengatakan, suami dan istri pasti berangkat dari latar belakang yang berbeda. “Ketika memutuskan menikah, Anda pasti yakin, inilah pasangan yang tepat untuk Anda. Mereka yang kemudian menyerah di tengah jalan dan berbalik mengatakan ‘tidak tepat’ umumnya karena tak mau menangani masalah-masalah yang muncul. Padahal, rumah tangga mana yang bebas dari masalah?”

Sejatinya, perkawinan adalah proses belajar seumur hidup karena dua latar belakang berbeda tadi harus terus-menerus dipersatukan. “Pada satu titik, yang kita yakin sudah bersatu pun tetap akan muncul masalah karena ternyata kita juga berubah secara dinamis.”

Karena proses inilah, ujar Widya, begitu ditemui konflik, jangan lantas bilang, “Ah, dia orang yang salah!” Sebaliknya, kita harus terus berusaha mencari ketepatan. “Inilah hakekat perkawinan. Mencari ketepatan, bukannya ‘lari’ karena menghindari konflik.”

Widya tak menampik, ada pasangan yang sudah merasa tepat satu sama lain. Pasangan ini memang beruntung. “Tapi keberuntungannya bukan didapat begitu saja. Mereka terus belajar dan bertoleransi untuk mencari ketepatan, pun ketika menghadapi masalah di dalam perkawinannya. Selain itu, pasangan sejak awal juga berkomitmen untuk tetap mengutamakan perkawinan di atas segalanya,” tutup Widya./*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

you can comments anything, but dont write pornographic, public victimization, violence, bad provocateur