mya



Free Widgets

Minggu, 16 Mei 2010

Menikahi Pria Muda Bikin Pendek Umur?

Menikahi Pria Muda Bikin Pendek Umur?
Jumat, 14 Mei 2010 | 10:09 WIB
shutterstock

KOMPAS.com — Kalau sudah cinta, apalah arti perbedaan usia. Begitulah dalih banyak orang yang menikahi pasangan dengan beda usia cukup jauh. Pada wanita, ternyata ada risiko kesehatan yang harus ditanggung bila menikahi pria berusia lebih muda.

Penelitian yang dilakukan terhadap lebih dari dua juta pasangan di Denmark menunjukkan wanita yang menikahi "pria berondong" cenderung berumur lebih pendek. Bagaimana jika menikah dengan pria yang usianya terpaut lebih tua? Sama saja ternyata meski relatif tidak seburuk bila menikahi pria muda.

Bagaimana hal itu bisa terjadi memang masih belum jelas. Namun, para peneliti menduga hal itu berkaitan dengan tekanan dari lingkungan sosial. "Menikahi pria terlalu muda mungkin belum diterima secara umum sehingga banyak istri yang merasa tertekan oleh sanksi sosial," kata Sven Drefahl dari Max Planck Institute for Demographic Research.

Menurut Drefahl, pasangan yang mendapat stigma dari masyarakat cenderung kurang mendapat dukungan sosial sehingga menyebabkan pasangan tersebut lebih stres dan berakibat buruk bagi kesehatannya. Nyatanya, hanya segelintir perempuan yang jatuh cinta kepada pria-pria muda usia ini. Mereka mayoritas menyukai pria yang usianya tak jauh beda sekitar 2-3 tahun lebih tua.

Berbeda dengan kaum hawa, ternyata pria yang menikahi wanita berusia muda justru lebih sehat dan panjang umur. Penelitian menunjukkan, pria yang menikahi wanita berusia 7-9 tahun lebih muda risikonya untuk meninggal lebih cepat berkurang hingga 11 persen.

Istri yang lebih muda secara sosial dan psikologis lebih menguntungkan bagi para pria. Selain itu, perbedaan usia akan membantu pria untuk lebih menjaga kondisi kesehatannya.

Berbagai literatur menegaskan, secara umum kehidupan perkawinan lebih menguntungkan bagi kesehatan. Orang yang menikah diyakini lebih panjang umur dibandingkan dengan yang memilih melajang.

Memang semua teori di atas tidak terjadi pada semua pasangan yang menikah. Kehidupan perkawinan yang dilimpahi cinta, rasa tulus, saling percaya, dan nyaman tentu berdampak positif bagi kesehatan jiwa dan raganya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

you can comments anything, but dont write pornographic, public victimization, violence, bad provocateur