mya



Free Widgets

Selasa, 04 September 2012

Membilas Laba dari Usaha Cuci Helm

Nurseffi Dwi Wahyuni - detikfinance
Jakarta - Jumlah pengguna motor dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta menunjukkan pertambahan motor di Jakarta mencapai 1.035 unit Per hari.

Jika tingginya populasi pengguna motor tersebut menginspirasi Bagas, Toto, Riki, Caca dan Sule untuk mencari peluang usaha baru.

Pada tahun 2006, lima alumnus Universitas Trisakti ini awalnya ingin membuka cucian motor namun niat itu mereka urungkan karena saat itu sudah banyak orang yang membuka bisnis cucian motor.

"Dari market pengguna motor yang besar ini apalagi yang bisa kita ambil. Kemudian ada celetukan dari salah satu teman saya, gimana kalau menyuci helm? Karena pengguna motor pasti punya helm dan saat itu belum ada yang membuka usaha itu," ujar salah satu pemilik Healthy Helm Bagaskoro saat berbincang dengan detikFinance, Sabtu (28/3/2009).

Sejak tercetusnya ide itu, Bagas dan empat sahabatnya mulai melakukan eksperimen. Mereka mencoba mencari cara menghilangkan noda dan bau serta mengeringkan helm secara cepat. Untuk mendukungnya mereka menemukan sebuah alat yang bisa mengeringkan helm dalam waktu 4 jam. Alat tersebut tidak merusak kondisi material helmnya yang sensitif terhadap panas.

"Kita mulai observasi sekitar Agustus 2006. Akhirnya terbentuk prototipe pertama kita bisa mengeringkan helm dalam waktu empat jam. Sekitar bulan April atau Mei 2007 kami membuka salon cuci helm pertama di Indonesia," jelasnya.

Memulai sesuatu yang baru tidaklah mudah, pada saat awal salon tersebut dibuka Bagas mengaku tidak ada satu pelanggan yang menyambangi salonnya.

"Pertama tidak ada pelanggan sampai akhirnya kita desperate terus buka cucian motor dulu untuk mempromosikan usaha cuci helm kami. Setelah banyak yang mengenal, kami pun akhirnya kembali fokus ke cuci helm dan menutup cucian motor," kenangnya.

Bagas menuturkan bagaimana proses pencucian helm. Pertama kacanya dibuka, kemudian lakukan pelepasan busa. Lalu di semua bagian helm dicuci dengan menggunakan sabun. Setelah dicuci semua dipasangkan kembali kemudian diberikan pewangi dan pengharum. Habis itu baru dikeringkan.

"Kalau ada helm yang rusak saat dicuci maka kami akan menggantinya dan ini jarang sekali terjadi. Selain itu, setiap orang yang mencuci disini secara otomatis akan menjadi member gratis. Dimana setiap mereka mencuci 10 kali disini, 1 kali gratis cuci," ucap Bagas seraya berpromosi.

Seiring dengan jalannya bisnis tersebut, kelima sahabat ini tidak lantas berpuas diri. Mereka pun terus bereksperimen untuk meningkatkan kemampuan alat pengeringnya. Dari eksperimen kedua yang mereka lakukan pada bulan Oktober 2008, mereka berhasil membuat alat pengering yang mampu mengeringkan helm yang dicuci dalam waktu setengah jam.

"Kan dicucinya 15 menit, 30 menit dikeringkan dan finishing 15 menit sehingga dalam waktu satu jam helm yang dicuci disini bisa langsung dibawa pulang," tuturnya.

Ternyata kerja keras yang dilakukan Bagas dan teman-temannya tidak sia-sia. Dengan modal awal sekitar Rp 45 juta, kini mereka telah memiliki 12 outlet salon helm di wilayah Jabodetabek. Bahkan sejak Agustus 2008, mereka telah memiliki franchise di 18 kota di Indonesia.

"Dulunya kita  tidak mau, tapi banyak yang berminat. Waktu saya bilang kami tidak membuka franchise, banyak yang protes. Lalu kita berpikir kalau hal ini akan bermanfaat untuk orang banyak, jadi sejak Agustus kami membuka franchise," ungkapnya.

Adapun 18 kota yang sudah menjadi pasar helm cuci ini diantaranya Jakarta, Cikarang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Bali, Malang, Samarinda, Balikpapan, Tenggarong, Tarakan, Pontianak, Manado, Makasar dan Ambon.

"Sekarang ada permintaan juga Timika dan Jayapura," ujarnya.

Bagas menjelaskan ada dua jenis kerjasama yang ditawarkan Healthy helm yaitu dengan menjadi channeling dan distributor. Untuk menjadi channeling, calon rekan kerja Healthy Helm harus menyetorkan uang sekitar Rp 25 juta. Calon rekanan menyiapkan tempat usaha dan pekerja. Sedangkan perlengkapan mulai dari perlengkapan material, tekhikal, promosi dan administrasi berasal dari Healthy Helm.

"Tidak ada sistem bagi hasil, semua pendapatan 100 persen milik dari si pembeli. Hanya untuk alat pengering helm itu mereka menyewanya dengan membayar Rp 1 juta per tahun atau 83 ribu per bulan," jelasnya.

Untuk menjadi distributor, Bagas mengatakan calon distributor tersebut harus menyetorkan investasi Rp 50 juta. Menurut Bagas, seorang distibutor akan memperoleh hak khusus yaitu jika ada orang yang berminat untuk menjadi channeling di sebuah kota maka pengajuan izinnya harus melalui distributor.

"Dia akan mendapat keuntungan dari setiap transaksi channeling tersebut," katanya.

Bagas menyebutkan dalam setiap harinya Healthy Helm rata-rata berhasil mencuci 10 helm. Dengan biaya Rp 13.500 per helm. "Padahal target kita hanya 5 helm per hari. Bahkan distributor di Bandung 20 helm per hari," jelasnya.

Bagas mengakui prospek ke depan usahanya masih sangat besar. Saat ini Jakarta saja membutuhkan 800 outlet cuci helm, sedangkan outlet helm di Jabodetabek  baru ada 12 outlet. Bahkan disaat usaha lain banyak yang gulung tikar, Bagas menyatakan bisnis ini masih bisa terus berkembang.

"Saat ini cucian motor di Jakarta kami prediksikan sekitar 5 ribu outlet. Berarti kalau dihitung Jakarta butuh 800 outlet cuican helm dengan asumsi 5 persen dari 4,5 juta pengguna motor di Jakarta yang mau menyuci helmnya. Jadi ini peluang bisnis sangat besar," katanya.

Apalagi Bagas melihat saat ini tingkat kepedulian pengguna motor terhadap helmnya masih rendah. Bagas menyatakan karyawan pernah membersihkan helm yang 10 tahun tidak pernah dicuci oleh pemiliknya.

"Ada helm 10 tahun tidak pernah dicuci, itu masih dipakai. Waktu nyuci operator kita sampai muntah-muntah. Dan akhirnya pemilik helm tersebut, saat ini menjadi pelanggan setia kami," katanya sambil terkekeh.

Outlet utama Healthy Helm

Jalan Cirendeu Raya No 55, Jakarta.
Atau Kantor di Ruko Fatmawati Mas Blok A1 Nomor 112, Jalan RS Fatmawati Raya, Jakarta Selatan, Telepon 021-71698561.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

you can comments anything, but dont write pornographic, public victimization, violence, bad provocateur